<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/33206210?origin\x3dhttp://lilyendadays.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Monday, April 23, 2007

Hampir semua orang yang kenal saya tahu, bahwa saya itu pelupa berat. Tentang apapun, baik yang sering dilihat, dibaca, apalagi yang jarang dilihat atau dibaca.

Saya hampir selalu lupa siapa orang-orang yang ada di list Y!Mesenger saya, kecuali orang yang benar-benar rutin berkomunikasi dengan saya, atau memang sudah akrab dengan saya. Sehingga semuanya sudah maklum kalau saya memulai percakapan dengan kalimat, “Err… Ini siapa ya?” atau, “Sorry, anak HPI bukan? Usernamenya apa ya?”

Saya sudah lupa hampir semua nama teman saya dulu di SMP. Tahun lalu, sebulan setelah saya masuk SMA, saat saya pergi ke sebuah mall, saya disapa oleh seorang siswi SMA yang tidak saya kenal. Dia jelas teman saya, karena dia menyebut nama saya dengan jelas, dan menceritakan sedikit kejadian terbaru mengenai teman-teman yang lain, yang masih saya ingat namanya. Saya ingat wajahnya, tapi sama sekali tidak ingat dia dari kelas mana, di mana kami pernah bertemu, bahkan namanya pun saya tidak ingat. Sehingga di akhir obrolan seru itu, saya terpaksa bertanya, “Maaf, namanya siapa ya?” Euh, jelas itu bukanlah hal yang baik T.T.

Saya tidak pernah hapal nama dan wajah orang yang baru bertemu beberapa kali dengan saya. Sampai sekarang saya hanya hapal wajah dan nama guru yang pernah mengajar saya dalam interval waktu sebulan yang lalu. Sedangkan untuk yang lain, namanya pun tidak tahu - -; Untuk guru SMP, saya bahkan cuma ingat satu nama (dan saya sudah lupa total wajahnya), Pak Tjeptjep, guru Bahasa Indonesia kelas tiga yang memang terkenal sangar (tapi orangnya sebenernya baik sih). Selain itu, jangan tanya.
Untuk urusan member HPI, kalau bertemu bukan dalam urusan gath, saya tidak akan langsung sadar kalau itu teman saya. Hampir pasti saya akan menanyakan namanya terlebih dahulu.

Saya sering sekali lupa di mana saya meletakkan benda tertentu. Selama duduk di kelas satu SMA, saya telah kehilangan gunting, dua macam buku pelajaran, tiga kertas tugas, beberapa buah pulpen, pensil dan penghapus (saya tahu ini bukan karena ingat, tapi karena saya mencatatnya). Saat duduk di kelas dua SMA, saya sampai harus menamai semua barang-barang saya supaya tidak hilang. Namun, tetap saja, sudah tidak terhitung lagi berapa buah alat tulis saya yang hilang, dan lima buku paket saya sampai sekarang tidak kembali, setelah sepertinya ada teman saya yang pinjam (saya hampir tidak pernah ingat siapa yang pinjam barang-barang saya). Bahkan minggu lalu saya baru saja kehilangan LKS Biologi saya, yang entah dipinjam atau bagaimana. Padahal sudah saya isi penuh (Euh, bagi yang menemukan atau meminjam, tolong dong, balikin T.T. Kalo nggak gw mau ngapalin dari mana, woi - -;).

Dalam satu hari, saya pernah kehilangan handphone saya tiga kali di kelas, dalam rentang waktu lima menit saja. Yang pertama ternyata saya letakkan di laci meja, sisanya ternyata handphone itu dipinjam teman saya. Tadinya saya sempat (mau) marah, tapi ternyata saya sudah memberi izin untuk itu (kata temen sebelah saya), padahal saya sama sekali tidak ingat bahwa saya sudah memberi izin, ingat kalau handphone saya dipinjam saja tidak T.T

Saya pernah sampai empat kali bolak-balik ke warnet dalam sehari karena saya barang-barang saya tertinggal (waktu itu yang ketinggalan adalah flashdisk, file yang baru saja di download, jaket, dan earphone handphone saya). Sampai saat ini, setiap kali saya akan pulang dari warnet itu, operatornya selalu bertanya pada saya, apakah ada yang ketinggalan T.T.
Dan hari ini saya baru sadar kalau bando saya ketinggalan di warnet saat publish blog kemarin.

Dalam sebuah soal olimpiade kemarin, saya menemukan istilah sitokrom, dan saya memang tidak tahu (atau lupa ya? Tapi saya sama sekali tidak ingat dan berani bersumpah kalau saya belum pernah membaca itu) apa itu sitokrom. Kemudian setelah saya dinyatakan lolos, maka saya pun mulai membaca buku-buku biologi saya, dan menemukan arti sitokrom. Namun sampai saat ini, saya sudah sembilan kali bolak-balik mencari dan membaca arti dari istilah tersebut, karena setiap kali saya menemukan istilah itu lagi dalam suatu soal, saya lupa (lagi) artinya. Sampai sekarang saya masih lupa apa itu sitokrom (padahal mudah sekali, sitokrom adalah enzim pernapasan yang terdapat di mitokondria, berperan penting dalam daur Krebs – Sains Biologi 3A terbitan Bumi Aksara tahun 2000, halaman 17).

Oom Abay, dan salah seorang teman sekelas saya, pernah mengatakan, bisa-bisa hidup saya akan seperti dalam film ’50 First Date’, di mana salah seorang tokohnya memiliki kesulitan dalam membentuk memori baru, atau istilah kerennya, amnesia. Sehingga, ia selalu lupa kejadian yang di alaminya hari sebelumnya. Euh, jangan sampai - -;

Kemudian, tadi pagi saya membaca pendahuluan sebuah bab tentang sistem koordinasi dalam salah satu buku biologi saya.

Paul J. Rambroso dari Yale University dan Robert Sapolsky dari Stanford University meneliti hubungan antara stres dan kesehatan. Dalam laporannya yang dimuat di Journal American Academy of Child dan Adolescent Psychiatry menyatakan, sekresi hormon stres yang berkepanjangan dapat mengerutkan bagian tertentu dari otak, terutama hipokampus, yaitu bagian otak yang berperan dalam proses kognitif. Oleh karena itu, tidak jarang orang yang stres berkepanjangan akan menjadi pelupa dan sulit belajar.

Sumber: Kompas, 5 Januari 2003


Hmm, apa ini ya penyebabnya? Saya jadi pelupa gara-gara saya stres?
*merana di pojokan*.

Labels:



+ Lily @ 3:04 pm

_________

4 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Pelupa itu turunan kok :-"

3:59 pm  
Blogger Lily said...

Euh, sayah harap juga begituh... *makin stress*

5:01 pm  
Anonymous Anonymous said...

Sepertinya memang turunan...
Klo tanjakan mah cape lha... :P

8:57 am  
Blogger Lily said...

memang, lupa itu bikin capek.... T.T

2:52 pm  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home