Monday, May 12, 2008
Lama tak sua *ga jelas.com* Sebulan ga blogging, kangen juga ternyata. Bukannya males (sebenernnya emang males sih :D) tapi emang ga ada waktu. tapi sekarang ada waktu dan bahan, memang. Jadi, ayo blogging~ *teken enter dua kali*
Sunday, May 11th, 2008: The DaySetelah hari sebelumnya bertegang dan berkacau ria, belibet antara ngontak travel, nyari-nyari jadwal kereta, berkesel-kesel ria gara-gara Quidditch yang bikin kunjungan saya ke rumah Renny diakhiri dengan melayangnya pulsa saya sebanyak tiga puluh ribu rupiah karena saya memelepon pada makhluk tak jelas yang sedang menjahit di Hutan Terlarang, akhirnya semuanya selesai. Hari minggu datang, keputusan sudah diambil. Saya ikut gathering nasional, yay~!
Tadinya sempat mempertimbangkan buat ga ikut. Banyak alasan yang mendasari pertimbangan itu. Sejak gath di Ngopi Doeloe saya malah kena alergi, hari sebelumnya saya makan udang (pake tepung sih, tapi tetep... u-d-a-n-g = a-l-e-r-g-i. Siyal.) hari setelah hari gath saya harus ikut UAS, dan penyakit rutin (disamping mual-mual seperti biasa -_-) yang menyerang ketika mau ujian. Kurang banyak alasannya? Oke, tambah. Suara saya hilang di malam harinya, dan batuk-batuk makin parah, pertanda radang tenggorokan sebentar lagi menyerang. Nah, lihat kenapa saya tidak bisa ikut gath? masih belum bisa lihat? Anda butuh kacamata minus dua puluh kalau begitu.
Tapi keesokan paginya, akhirnya saya tetap pergi. Dari rumah pukul lima pagi, sampai stasiun pukul lima lewat empat puluh. Telepon Manda, lagi di jalan. IM Renny, ban mobilnya masuk sekolan. Great, bikin cemas. Untungnya pukul enam lewat sepuluh Manda dan Inka sampai, dan pukul enam lewat dua puluh tujuh Renny sampai. Kereta berangkat. Perjalanan selama kurang lebih tiga jam tiga puluh menit diwarnai dengan obrolan tak putus-putus tentang berbagai hal. Spesifiknya, silakan pikir sendiri, bukan konsumsi umum. Harap diingat, ini adalah pertama kalinya Renny naik kereta *ditakol Renny karena bongkar rahasia* Sepertinya gerbong itu kami carter penuh, tak terdengar suara orang lain selain kami di gerbong itu. Yang lain seakan takut bersuara karena mereka cuma numpang duduk *dikemplang* Tidak ada yang autis di dalam gerbong. Paling cuma Inka *nyengir keren* tapi memang sepertinya memang Inka lebih pendiam dibandingkan kakaknya yang 'pendiam'.
Did I say 'tiga jam tiga puluh menit'? *sekrol ke atas* Yeah, I said it. Kereta Parahyangan ternyata ngaret satu jam dari jadwal. Jadi harap maklum rombongan dari Bandung (yang cuma berisi empat orang, tapi salah satunya amat sangat keren *pake kacamata item sambil nyengir keren*) telat banget. Itu bukan kesalahan kami. Kami sudah mengikuti prosedur, tapi Parahyangan yang ngaret. Tapi para penjemput, Ayu aka Arzu dan Yoga aka *** *ditendang Yoga* rupanya masih setia menunggu kedatangan orang keren ini *ga pake kacamata item, karena ga pakepun udah keren* *nyengir imut*
Singkat cerita, kami bergegas menuju Monas, melewati pagar penghalang, berjalan beratus-ratus
kilometer menuju sebuah-patung-kuda-atau-apalah-saya-tak-memperhatikannya, sambil kasak-kusuk (saya dan Renny) soal rencana besar kami, Jadi Autis. Hohoho, saya tidak tahu apa alasan Renny untuk jadi autis, Dia sih sepertinya memang sudah autis dari sananya, karena nick msnnya saja dulu renny.autis, ga heran kan? Sementara saya, sudah mempersiapkan jadi autis karena tiga alasan. Pertama, suara saya sudah serak karena di kereta sudah ngobrol banyak dan malam sebelumnya malahan hilang suaranya. Dengan menjadi autis saya tidak perlu banyak bicara. Kedua, saya sudah punya firasat buruk bahwa saya akan dikerjain. Oh yeah, tak usah bertopeng iblis kalian semua, saya tahu rencana busuk kalian! *menuding member-member IH* *diiket di pohon Anggrek* Ketiga, saya tahu bahwa fans-fans saya sudah tidak sabar bertemu dengan saya, jadinya sebaiknya saya meny- *dibekep duluan sebelum menyelesaikan kalimat*
*capek, besok aja diterusinnya* *ditakol*
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 8:32 pm
_________
Sunday, April 06, 2008
-Siggy by Lorainne Ziegmowit-
Name: Arianne Amarante Ravell
Birthdate: April 14th, 1963
Birthplace: Calais, France
Zodiac: Aries
Height/Weight: 145cms/33kgs (11-12 years old)
Wand: Hazel, 26 cms, with core Augurey's feather.
Home: 494 Cote Hill Road, Morristown, VT 05661. View the picture.
Current Residence: 15Bd Clemenceau Bp 442, 62225, Calais. View the picture.
Job: Student at Hogwarts, Ravenclaw House
Interests: Reading books, dancing, and many more...-will edited soon *cari inspirasi*-Labels: Arianne Ravell, Harry Potter, Me
+ Lily @ 11:51 am
_________
Arianne punya beberapa sisi yang sebenarnya berlawanan dalam dirinya. Yeah, entah bagaimana itu bisa terjadi. Saya sih ngikut aja deh apa maunya chara saya, hohoho.
-Siggy by Arzu Evenstar-
Feminine vs MasculineArianne Ravell adalah anak tunggal. Ia tinggal dengan satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai keluarganya, Maurice yang notabene adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun yang lumayan sibuk meskipun selalu berusaha meluangkan waktu bagi Arianne kapanpun ia mampu. Arianne dulu seorang yang lumayan mencerminkan seorang perempuan, namun setelah beberapa kejadian muncul, ia jadi menganggap bahwa cewek itu 'rese' dan lebih memilih bergaul dengan anak-anak laki-laki di lingkungan sekitar tempat tinggalnya di Amerika yang rata-rata 'easy going'. Makanya, ia sering bermain baseball, basket, bersepeda, dan bahkan lari pagi setiap hari, itu karena pengaruh mereka. Ia juga jadi merasa lebih nyaman mengenakan pakaian yang simple dan mudah, suka mengenakan topi, dan tidak terlalu suka berdandan. Tapi Arianne tidak menganggap ini sebagai pengaruh buruk bagi dirinya.
Meskipun sisi maskulin (euh, bener ga sebutannya?) muncul padanya, tapi ia juga punya sisi feminin, atau sisi perempuannya. Ia membiarkan rambutnya tumbuh panjang dan tetap merawatnya, ia juga suka beres-beres rumah dan memasak -biarpun yang ini terpaksa, karena Maurice sibuk. Ia juga suka menari dan kemungkinan besar takkan keberatan mengenakan 'pakaian perempuan'. Ia juga tidak muka tembok dan kebal terhadap kata-kata atau perlakuan kasar. Mungkin ia akan membalas perkataan tajam dan balik memukul jika ia dipukul. Tapi dalam beberapa kasus, bisa jadi ia akan menangis karena takut, sedih, atau terguncang. Dan bisa saja itu karena hal sepele seperti jatuh tersandung atau ditamparin seperti waktu ditampar Vinzz yang disangkanya pasien St. Mungo yang kabur.
-Siggy by Yusuke Sawada-
Kind vs EvilBanyak orang bilang, Arianne itu jutek. Benarkah?
Sebenarnya sih tidak (menurut saya sebagai pmnya, tapi saya juga sayangnya tidak tahu -_-). Arianne mempunyai perasaan tidak suka yang khusus pada orang Prancis, dan orang-orang yang setipe atau berkarakteristik mirip-mirip orang Prancis, yaitu angkuh, suka tersenyum palsu, suka berkata 'parah', suka mengelompokkan orang. Pada orang-orang semacam ini bisa jadi Arianne akan berkata-kata sedikit tajam dan memberikan sedikit ekspresi tidak suka, yang kadang bahkan tidak terlihat karena ia lebih suka memasang wajah tenang. Ekspresi tenang dan minim senyum ini juga yang mungkin disalahartikan sebagai jutek, padahal ini adalah salah satu caranya menyembunyikan dan menghindari dirinya terluhat tak berdaya. Faktor lain yang menyebabkan ia terlihat jutek, mungkin adalah kebiasaannya yang bicara seperlunya dan lebih banyak bicara dalam hati mengomentari semua hal yang dilihatnya atau membuatnya tertarik.
Di sini lain, Arianne sebenarnya cukup periang, jika ia bertemu dengan seseorang yang setipe dengan orang-orang yang dikenalnya dan disukainya, atau jika ia bertemu dengan seseorang yang dianggapnya temannya. Tak percaya? Tanya Yusuke Sawada yang sudah dicerocosi cerita soal sapu dengan panjang lebar di toko Quidditch. Padahal itu kali pertama mereka bertemu. Sawada rupanya mirip dengan teman Arianne yang bernama Mark, hanya saja Sawada sedikit lebih beradab. Pada orang-orang yang sudah dekat inilah, baru Arianne mau menampakkan dirinya. Ia akan tersenyum dan berbicara penuh ekspresi, seperti layaknya dirinya yang seharusnya.
Japan vs FranceTak sedikit yang menyebutkan dalam deskripsi di postnya, "...melihat seorang anak Asia..." ketika mereka mendeskripsikan chara mereka melihat Arianne baik sengaja maupun tidak. Padahal saya sudah merencanakan Arianne sebagai orang Prancis. Bagaimana ini? Sepertinya kesalahan terletak pada kedudulan saya dalam memilih visualisasi. Yeah, BoA Kwon, orang Asia. Jadi, kenapa tak menggunakan visualisasi orang Prancis? Ada beberapa alasan: Saya tak menemukan dan mengetahui visualisasi cewek Prancis yang pas untuk seorang Arianne, saya merasa BoA Kwon itu mencerminkan Arianne, dan BoA Kwon itu fotonya banyak banget, jadi gampang kalo bikin siggy dan butuh visualisasi untuk suatu momen... *digetok*
Nah, jadi bagaimana menyambungkan rupanya dengan latar belakangnya yang katanya adalah orag Prancis? Ahh, saya juga bingung. Apakah ternyata Maurice berbohong waktu mengatakan bahwa ibunya itu orang Prancis? Apakah Arianne kecil salah lihat atau salah ingat waktu mendeskripsikan dalam ingatannya soal ibunya yang katanya "sosok wanita berambut cokelat panjang ikal yang tinggi dan bergaris wajah lembut"? Bukankah sosok itu sama sekali tidak terlihat seperti orang Jepang, dan Alain Ravell sendiri sudah terbukti sebagai orang Prancis? Apakah sebenarnya Alain berselingkuh sehingga putrinya berwajah oriental? *digebuk sama Alain* Mari kita saksikan saja nanti.... :D *halah*
Dengan sifat-sifat seperti ini dan beberapa sifat lain, saya benar-benar tidak tahu Arianne akan masuk ke asrama mana. Saya sendiri tidak berusaha mengarahkan dia untuk masuk suatu asrama tertentu, dan hanya berusaha agar ia menjadi dirinya sendiri. Post ini akan diedit dan diupdate tergantung perubahan apa yang akan terjadi :D.
Labels: Arianne Ravell, Harry Potter, Me
+ Lily @ 10:22 am
_________
Thursday, April 03, 2008
Term 3 IndoHogwarts sudah dibuka~ Dan sudah ditutup, hehehe... Term baru, berarti chara baru~ *ditimpuks staff dan member seforum*
ARIANNE RAVELL-Siggy by Janette Blizzard-Nama lengkapnya Arianne Amarante Ravell. Lahir di Prancis, 14 April. Tongkat yang didapatnya adalah Kayu Hazel, 26 cm, inti bulu ekor Phoenix Irlandia atau Augurey. Arianne sendiri adalah seorang gadis yang energik, setiap pagi hampir selalu lari pagi di area sekitar rumahnya dan Maurice. Lebih suka berpakaian simpel karena sering bergerak dan beraktivitas. Rambutnya yang panjang lurus berwarna coklat tua lebih sering digerai, kecuali jika aktivitas yang dilakukannya mengharuskan rambutnya diam di tempat, barulah ia mengikatnya. Setiap hari, ialah yang membersihkan rumah dan memasak -cuma yang simpel- karena sepupunya, Maurice, harus bekerja sebagai fotografer di sebuah majalah.
FamilyAyahnya seorang penyihir berdarah murni bernama Alain, namun sayangnya ibunya, Florence adalah squib. Keluarga besar ayahnya, sama sekali tak menyukai kenyataan ini. Merupakan aib memiliki seorang yang tak becus dalam keluarga. Tidak, mereka bukan keluarga bangsawan, tapi jelas squib bukanlah pilihan bagus untuk dimasukkan dalam silsilah keluarga Ravell. Karenanya, Alain diminta -atau dipaksa- memilih, keluarganya, atau wanita itu. Alain memilih Florence, yang berarti mereka memutuskan hubungan keluarga, selamanya, sampai ke keturunan-keturunannya. Alain dan Florence tinggal di sebuah rumah kecil hingga mereka memiliki seorang gadis kecil, Arianne.
Namun Arianne akhirnya tinggal bersama Maurice. Maurice adalah saudara jauh dari Alain, tinggal sendirian di Amerika setelah lulus sekolah, meninggalkan keluarganya untuk pendewasaan diri, dan mengambil Arianne saat orangtuanya meninggal karena
kecelakaan mobil -Arianne selamat karena sihir spontannya-. Saat itu usia Maurice barulah sembilan belas tahun, dan Arianne berusia lima tahun. Arianne yang saat itu masih kecil sama sekali tidak mengerti tentang masa lalunya dan orang tuanya. Ia juga tidak tahu, bahwa ia penyihir hingga sihir itu secara tidak sengaja muncul saat usianya akan menginjak delapan tahun. Maurice akhirnya menceritakan semuanya.
Sejak mengetahui masa lalunya, Arianne membenci ayahnya, membenci ibunya, dan terlebih, membenci keluarga ayahnya yang berpikiran sempit. Mereka membuat Arianne kehilangan orangtuanya, membuatnya tak bisa mengecap kebahagiaan memiliki keluarga besar dan bercengkrama bersama sepupu-sepupunya, dan lebih jauh lagi, Arianne membenci orangtuanya karena tak mau hadir untuknya. Baginya kini, keluarganya hanyalah Maurice, tak ada lagi yang lain. Ia sama sekali tak akan mempedulikan keluarga yang telah membuangnya.
LikesHobi Arianne tidak banyak. Ia suka menari, karena menari membuatnya banyak bergerak. Karena itulah ia suka tarian yang dinamis. Menari merupakan penghiburan baginya, salah satu caranya mengungkapkan perasaannya, selain dengan cara menulis atau melukis. Ia juga suka membaca karena membuka matanya akan dunia-dunia yang tidak diketahuinya. Lemari buku di ruang kerja Maurice -sekaligus perpustakaan- adalah korban pertamanya. Ia telah membaca semua isinya dan telah memahami sebagian besar isi buku-bukunya. Arianne sering bergumam dalam hati dan mengatakan berbagai hal dalam berbagai emosi. Kadangkala membatin seperti itu membantunya mengetahui apa yang dirasakannya, dan juga menghindarkan orang lain dari kata-katanya yang kadang tajam.
Dulu, saat Arianne belum mengetahui tentang orangtuanya, Arianne mempunyai satu hobi lain. Bermain putri-putrian dengan Maurice. Namun setelah ia tahu, permainan itu terasa konyol dan segera dihentikannya. Alasan lain ia berhenti adalah, karena ia menganggap permainan itu adalah mainan anak manja -padahal waktu dulu memainkannya dia senang-senang saja.
Sebagai penggantinya, Arianne lebih suka bermain dengan anak laki-laki di lingkungan rumahnya, di antaranya adalah Mark dan Will. Mereka menerima Arianne mungkin karena Arianne tidak rese seperti anak-anak perempuan lainnya, dan mereka juga tidak menganggap Arianne sebagai pengganggu, meskipun terkadang Arianne mengacaukan permainan mereka, karena sebenarnya ia tidak terlalu mahir dalam permainan-permainan itu. Sebaliknya, Arianne merasa nyaman-nyaman saja bermain basket maupun baseball, atau bahkan balap sepeda semkipun sering kalah dan sering mengganggu daripada membantu anak-anak laki-laki itu. Mereka toh dengan cepat melupakan masalah dan kembali bermain seperti biasa.
HatesHal yang dibenci Arianne ada beberapa. Ia tidak suka senyum palsu. Dan sebisa mungkin tidak tersenyum kalau ia tidak suka. Ia tidak menggubris usaha Maurice untuk membuatnya tersenyum, termasuk pujian yang mengatakan kalau tersenyum ia akan makin manis. Siapa peduli? Tapi terkadang pada saat-saat darurat, Arianne bisa saja tersenyum. Misalnya pada saat ia berhadapan dengan orang dewasa, atau pada situasi-situasi penting.
Arianne juga tidak suka orang yang sok dan angkuh. Terutama orang yang sok bangsawan. Terkadang ia jadi berkata-kata pedas jika diganggu oleh orang-orang yang tidak disukainya. Tipikal ini -tak suka senyum dan suka berkata-kata sinis- membuatnya disangka jutek di Indo Hogwarts (oh teganya kalian -_-). Tapi jika dilihat dari sudut pandangnya, maka yang dilakukannya terasa sah-sah saja :D. Yang paling utama, Arianne membenci orang Prancis. Karena ibunya, ayahnya, dan keluarga besar ayahnya adalah orang Prancis, dan Arianne membenci mereka. Menurutnya, orang Prancis itu arogan, angkuh, dan menyebalkan. Oh, dan Arianne benci orang yang suka membeda-bedakan secara terang-terangan, misalnya pecinta Darah Murni dan orang yang terang-terangan nyebut Darah Lumpur. Huhuhu... *dipundungin gara-gara ini*
Arianne terkadang memasang topengnya, mengenakan wajah hampir tanpa ekspresinya untuk melindungi dirinya sendiri. Itu karena dia tidak suka sesuatu berada di luar kendalinya. Ia tak suka menjadi tak berdaya. Karenanya juga ia selalu memperhitungkan segala sesuatunya dan berusaha agar mengetahui segala hal yang terjadi di sekitarnya.
Hal terakhir (mungkin) yang dibencinya adalah tikus. Tak ada alasan khusus kenapa Arianne membenci binatang kecil ini. Ia hanya menganggap binatang berkumis itu mengerikan.
Labels: Arianne Ravell, Harry Potter, Me
+ Lily @ 6:09 pm
_________
Monday, March 24, 2008
Aih, sekarang-sekarang jadi jarang blogging lagi. Sibuk, sibuk! Sibuk maen, sibuk menilai essay *ditakol* Huhuhu, padahal UAN, ohmegosh.... Auk ah.... Ini aja sebenernya baru pulang ujian praktek agama. Materinya, nyolatin Dumbledore! *dikutuk semua anggota Orde* Shalat jenazah dan baca Al-Quran. Fufufu, untung bisa....
Eh, mau ngepost nilai ramuan kok malah ngomongin yang aneh-aneh ya, ini dia deh... *daripada kelamaan*

Hohoho, nilainya masih banyak T-nya? Ga tau ahh, pada cinta troll kali XD.
Oh iya, saya sudah bikin blog baru,
Potion Cauldron. Blog iseng, berisikan essay-essay Ramuan bikinan anak-anak IndoHogwarts, juga essay-essay yang saya bikin sebagai 'panduan'. Peringatan: Isi dari blog itu adalah fiktif belaka, jangan diambil pusing! *ditakol*
Labels: Essay, Harry Potter
+ Lily @ 4:50 pm
_________
Friday, March 21, 2008
Eheum... Berhubung udah lama gak apdet blog, masukin ini aja deh :D *kurangkerjaanbangetsihgw* Ini adalah nilai Ramuan saat Term pertama IH. coba liat deh nilainya. Banyak banget yah trollnya :D. Ah, sebodo. Saya cuma menilai sesuai dengan kualitas kok *siyul-siyul*
PS: Gak jelas? Klik aja gambarnya :D.
Labels: Essay, Harry Potter
+ Lily @ 12:11 am
_________
Thursday, February 21, 2008
Lily menunggu prosesinya berlangsung, namun sebentar-sebentar dia mengetukkan kakinya pelan, atau memilin-milin rambutnya tanpa sadar. Lama sekali! Apa susahnya sih menikah, Profesor Sinistra kan sudah berdandan dari tadi! Sekarang cukup berjalan di altar dan mengucap janji, lalu selesai! rutuknya tak sabar dalam hati. Mr. dan Mrs. Evans tampaknya jauh lebih sabar daripada Lily, mereka duduk tenang di tempat masing-masing, Meskipun Mrs. Evans, yang menyadari kegelisahan Lily, sesekali menepuk pundaknya pelan, menenangkan, dan Mr. Evans, tak tahan untuk menoleh kesana-kemari, memperhatikan para penyihir yang semakin banyak datang, beberapa bagaikan muncul begitu saja dari udara kosong.
Tiba-tiba suasana hening. Lily dan kedua orangtuanya segera menyadari perubahan ini. Lily menegak di tempat duduknya, agak bingung dengan keheningan yang mendadak ini, sementara Mr. dan Mrs. Evans saling pandang sambil tersenyum mengerti, seakan mengingat saat-saat pernikahan mereka dulu. Lily akhirnya melihat apa penyebab keheningan ini, saat dia menyusuri arah kemana pandangan semua orang tertuju.
Seorang wanita cantik bergaun putih, yang hampir salah dikenalinya karena cantiknya, Profesor Sinistra yang sudah menanggalkan atribut ketegasannya, sedang berjalan gugup perlahan sambil digandeng oleh guru ramuannya, Profesor Slughorn. Di ujung lainnya, Profesor Buster yang juga tampak gugup sedang berdiri, bersama dua orang yang dikenali Lily sebagai rekan seasramanya. Lily menyadari bahwa acaranya sudah dimulai.
Profesor Slughorn menyerahkan tangan Profesor Sinistra pada Profesor Buster. Suasana menegang. Musik telah berhenti. Lily baru menyadari mengapa keduanya membutuhkan waktu lama sekali untuk bersiap-siap, bukan hanya urusan fisik, namun juga mental harus dikuatkan. pernikahan ternyata sesuatu yang sangat penting.
"Wah, lihat, pengantin wanitanya cantik sekali," bisik Mrs. Evans agak keras, memperhatikan pengantin yang kini bersama di depan penghulu.
"Yeah, dan lihat pria gendut itu, apa itu ayahnya ya? Nanti saat Lilyku menikah, aku akan berjalan pelan begitu, menggandengnya erat, dan akan berat sekali melepaskan gadis kecilku," tambah Mr. Evans, memandang ke depan dengan bergairah.
"Itu berarti kita harus mengundang orang-orang dari dua kalangan, penyihir dan non-penyihir, benar kan Sayang? Aku ingin yang lebih meriah dari ini..." timpal Mrs. Evans pada suaminya. Kemudian mereka berdua cekikikan seperti sepasang remaja sedang membicarakan rencana bodoh yang lucu, menjahili orang, mungkin.
Lily yang mendengar percakapan kedua orangtuanya benar-benar merasa jengah. Saat seperti ini mereka malah membicarakan hal yang sangat jauh seperti itu. Lagipula, Lily masih tiga belas tahun, masih panjang jalannya menuju pernikahan. Mungkin dia baru akan memikirkannya setelah lulus dari Hogwarts, dan baru menikah di usia dua puluh tujuh? "Mum, Dad, aku ada di sini... Berhentilah membicarakan aku," katanya sebal, menghentikan percakapan kedua orangtuanya, dan kini perhatian mereka kembali ke arah pengantin.
Adegan yang berlangsung di depannya kini bagai dalam dongeng. Profesor Buster dan Profesor Sinistra keduanya menghadap 'Penghulu'. Saling memasangkan cincin. Saling mengucapkan sumpah setia akan hidup bersama saling mencintai dan berbagi suka dan duka selamanya. Diakhiri oleh ciuman dari pengantin pria. Kedua tangan Lily menutup pipinya yang merona karena menyaksikan adegan itu. Entah kenapa ia jadi berdebar-debar sendiri. Mr. dan Mrs. Evans sendiri memandang terpana ke depan, tampak terpesona dan tidak memperhatikan hal lainnya, tangan mereka yang berdampingan saling menggenggam.
Musik akhirnya mengalun lagi, kini musik yang berbeda dengan yang tadi. Mr. Evans, langsung tersenyum senang dan dengan bersemangat langsung menarik tangan Lily untuk bangkit dari dari duduknya. "Akhirnya... Ayo, sudah tiba saatnya, Lily sayang," katanya riang, dan melangkah ke 'lantai dansa', di mana pengantin wanita sudah berdansa dengan walinya, dan nantinya dengan suaminya. Beberapa orang lain juga sudah turun dan ikut berdansa.
"Dad!" hanya seruan itu yang sempat terlontar dari mulut Lily, dan ia segera terbawa ayahnya. Mereka berhenti ketika sudah berada di tempat yang tepat, kemudian Mr. Evans langsung menggenggam tangan Lily yang satu, dan tangan lainnya membimbing tangan Lily dan menyelipkannya di pinggang. "Kau sudah diajari ibumu berdansa kan? Nah, sekarang praktek! Kapan lagi ada dansa ayah dan anak selain nanti di pernikahanmu," kata Mr. Evans semangat, dan mereka mulai melangkah mengikuti alunan musik.
Lily sedikit menyadari bahwa ayahnya mungkin jadi agak kesepian setelah dua tahun ini Lily selalu berada di Hogwarts, dan hanya tinggal di rumah saat musim panas. Petunia jelas sama sekali tidak membantu, dia pasti hanya merengut dan malah pergi ke rumah temannya setiap hari. Lily menoleh melempar pandang ke kursi tamu, di mana ibunya tersenyum dan melambai lemah, dan Zeev masih dengan tampang dingin dan datarnya, yang kemudian dihampiri oleh anak laki-laki lain, kalau tidak salah anak Slytherin, meskipun Lily tak mengenalnya. Lily balas tersenyum, dan kembali menghadapkan kepala dan mata hijau cemerlangnya pada ayahnya, masih dengan senyum mengembang. Ia mulai menikmati acara dansa ini.
***
***
Lily berdansa dengan ayahnya hampir tanpa mempedulikan sekitarnya, ia seakan bergerak otomatis, hanya terkadang matanya melihat ke dalam mata ayahnya, yang kentara nampak bahagia, atau ke arah sekitarnya di mana mulai banyak orang berdansa. Lily sama sekali tak tahu bagaimana ia jadi mulai menyukai kegiatan berdansa ini. Tapi berdansa membuatnya merasa bebas dan bahagia.
Mr. Evans sangat bersemangat berdansa, seakan tak ada hari lain saja. Lily melayangkan pandangan ke sekitarnya, dan tertangkap oleh matanya bayangan Mrs. Evans dan... Zeev! Benar-benar tak terduga, apalagi baru saja Zeev menolak mentah-mentah untuk berdansa dengan Mrs. Evans. Lily menyunggingkan senyumnya ke arah mereka, dan kembali berkonsentrasi pada ayahnya yang kini mengajaknya bicara.
"Bagaimana, Sayang, apa kau senang?" tanya Mr. Evans sambil melempar pandangan menyelidik, di wajahnya terpasang ekspresi ingin tahu.
"Tentu saja, Dad. Ini hari yang indah. Pernikahannya juga sempurna sekali," ujar Lily impresif, "dan Profesor Sinistra.... sangat cantik."
"Ya, ya. Kau juga nanti bisa seperti itu. Aku hanya membayangkan... Ini adalah pernikahanmu, sekarang adalah waktunya dansa ayah dan anak, dan aku sebentar lagi harus menyerahkanmu pada suamimu. Rasanya berat sekali, putri kecilku akan pergi jauh dariku dan hidup bersama orang yang sama sekali asing," kata Mr. Evans yang malah melayangkan pandangannya ke arah lain, ekspresinya sedih, namun ia tetap tersenyum dan memandang Lily.
"Jangan memikirkan hal yang jauh begitu, Dad. Umurku masih tiga belas," ujar Lily, mendekatkan dirinya pada ayahnya, berusaha agar semburat tipis di pipinya bersembunyi dari Mr. Evans. Ayahnya ini aneh-aneh saja.
Tiba-tiba Lily merasakan sebuah tangan dingin meraih jemarinya yang bertautan dengan jari-jari ayahnya, dan tangan itu menariknya perlahan menjauh. Lily menoleh, mendapati Zeevlah yang menariknya; ia dan Mrs. Evans sudah berhenti berdansa dan telah ada di dekat mereka. Samar-samar Lily mendengar Zeev menyerahkan Mrs. Evans pada Mr. Evans.
Mr. Evans memandangi Lily dengan pandangan sedih, namun segera setelahnya ia berdansa dengan istrinya, dan aura kebahagiaan kembali pada mereka. Mungkin memang lebih tepat begitu. Lily menoleh pada Zeev, dan ia baru menyadari bahwa dia telah berdansa dengannya. Entah kapan Zeev menyelipkan tangannya di pinggang dan bahu Lily, dan membimbing kedua tangan Lily berada di posisinya yang seharusnya.
"Tak kusangka kau mau menemani ibuku berdansa, tadi kan kau menolak terang-terangan," kata Lily disusul tawa pelan, meskipun ia masih berdansa dengan Zeev. "Tapi... terimakasih, Mum kelihatannya sangat senang," sambungnya sambil tersenyum kecil, dilihatnya lagi orangtuanya yang masih berdansa pelan, agak di pinggir. Lily ingin sedikit mengajak anak itu mengobrol, tapi sepertinya agak sulit karena sifatnya yang pendiam dan 'datar'. "Oh, sudahlah, kita nikmati saja dansa ini," gumamnya.
Lily dan Zeev berdansa untuk beberapa waktu, hingga tiba-tiba gerakan mereka berhenti, dan mata hijau Lily menatap rambut hitam berantakan milik seseorang yang entah sejak kapan ada di sana. James Potter merangkul bahu Zeev sehingga mereka tidak bisa melanjutkan. Pakaiannya sudah tak formal lagi karena dasinya sudah dilepaskan, dan rambutnya tampak lebih berantakan dari sebelumnya.
"Ah, sepertinya kalian sudah lama berdansa ya. Bagaimana kalau sekarang kau menemaniku berdansa, Evans?" tanya James sambil nyengir pada Lily.
Lily memandang mereka berdua bergantian, antara pandangan bertanya pada Zeev, dan pandangan heran pada James. Apakah James Potter ternyata suka berdansa? Sama sekali tidak terpikirkan atau terduga. Lily berpikir sejenak, kemudian berkata perlahan, "Well.. Aku... tidak keberatan," sambil melepas tangannya dari Zeev dan bergerak menjauh. Namun sebelumnya ia sempat berbisik pada Zeev, "Thanks untuk dansanya," sebelum pergi ke area tak jauh dari situ.
"Err, kau bisa berdansa kan? Di mana aku harus meletakkan tanganku?" tanya Lily sambil dengan agak canggung meletakkan tangannya di bahu James.
Hihihi, iseng pasang dua post tulisanku waktu RPGan kemaren dan tadi di IndoHogwarts. Ceritanya ini waktu Profesor Sinistra dan Profesor Buster menikah, dan sudah sampai adegan dansanya.
Dari awal memang ga niat dansa yang aneh-aneh, pengen dansa ayah dan putrinya, kayak di film "What A Girl Wants", tapi karena Laverne Zeev dan Jammie aka James Potter tiba-tiba menghampiri, ya sutralah :D *bersiap-siap latihan mantra pelindung supaya ga kerepotan pas dikepung fansnya Lave sama Jejems*
Hmm, kalo dilihat-lihat post-post ini menekankan hubungan Lily sama orangtuanya ya? Kegelisahan seorang ayah kalau putrinya akan menikah. Agak
lebay kah? Ah, tapi kan ini obrolan ayah dan anak, dan si ayah cuma terbawa suasana gitu aja, gara-gara lagi hadir di acara pernikahan.
Ayah saya sendiri suka iseng nanyain, "Na, kapan cowoknya dibawa ke rumah?" "Euh, kalo kamu nikah, sepi atuh ya..." Padahal waktu nemu foto saya sama... err... ya, cowok, bahkan meskipun rame-rame, selalu ditanyain, ini siapa aja? Huhu...
Kalo Papi, sepertinya sih cuma bilang, "Ati-ati, nak. Jangan mau sama oom-oom. Cari aja cowok yang baik, cakep, pinter, sayang sama kamu, dan yang paling penting, dengan senang hati mau nraktir-nraktir kita sepuasnya, hohoho..." Emangnya nyari kacang goreng, semudah itu :P. Ah, kacang goreng juga sekarang susah ya nyarinya :D.
Tadinya begitu ngepost ini di IH, sempet kepikiran pengen dibikin FF, haha... Meskipun dengan setting yang agak beda. Apalagi
Mande sempet nunjuk salah satu bagian yang bikin dia 'mikir'. Tapi gak jadi ah, menyadari juga bahwa saya punya keterbatasan dan belum cukup mampu bikin FF. RPG-an dulu aja lah, ini aja masih berantakan.
PS: Elly, ampuni aku... hihihi... *ngumpet sebelum Elly balik dari Aussie*
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 4:38 pm
_________
Wednesday, February 06, 2008
Ahem...
Sudahkah saya mempromosikan IndoHogwarts? Belom? Ah, males ah promosi di sini, udah banyak kok yang promosi di tempat laen, ahaha...
Cuma mau cerita ringan kok, soal kejadian tadi sore.
Di IndoHogwarts kan saya memerankan orang-yang-keren-meskipun-masih-jauh-lebih-keren-PMnya, orang paling pinter di Slytherin, yeah, Profesor Horace E. F Slughorn. Kepala asrama Slytherin. Suka dukanya maenin chara ini banyak sih. Berkuasa, bisa detensi-detensi orang. Bisa menjadi orang sok tahu, dan ga boleh dibantah kalo soal ramuan, soalnya ahli ramuan gituh :D. Bisa bersikap baik, tapi juga bisa bersikap seperti seorang Slytherin, dingin dan angkuh. Bisa mengembangkan latar belakangnya dengan bebas, soalnya banyak yang tidak diceritakan J.K Rowling.
Interaksi dengan member biasanya tidak hanya di RPG saja, tapi juga di thread-thread official, blog official, ym, dsb. Karenanya, mereka tahu betul kayak apa PMnya, keren B-) *dipentung* Tapi tetep kok, saya masih punya wibawa sebagai seorang Profesor, sebagai seorang Slytherin, dan sebagai Slughorn.
Herannya, errrhhh... Tadi sore, kan lagi chat ym via henpun, tiba-tiba banyak yang im gitu.
*melirik windows hape* Evania Goldwin, Rhea Griggs, Kurata Naoko (cuma yang ini keknya lagi away). Terus pada meneriakkan aduan senada.
"Proooof..."
"Masa poin Huffle -273 -_-"
"*ngadu*"
"Mau ngadu nih..."
"Flitwick jahaaaaat... Masa diledekin doang ngurangin nilai -273 gitu."
"Prof, situ maenin Profesor Sprout juga enggak?"
"Enggak? Wehh..."
Ahaha, ampe heran dan cengo gitu deh saya... mau ketawa ga jelas, lagi di angkot. Akhirnya cuma bisa senyum dikulum doang. Malah ada yang ngadu, "McG jahat, masa malah ngakak dikasih aduan... T__T" Gyahahaha... *ikutan ngakak*
Terus pas saya tanyain, "Loh, kok ngadu ke saya? Ke Profesor Sprout dong." Dijawab senada, "Profesor Sproutnya lagi berjemur di pinggir danau..."
Wekekek.... Ampun dah....
In fact, saya itu kan kepala asrama Slytherin gitu yah, tapi ini kok anak-anak Huffle pada nempel ke saya, hihihi....
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 4:51 pm
_________
Monday, January 28, 2008
Setelah melewatkan launching Harry Potter and the Deathly Hallows hard cover, akhirnya saya dengan pasrah mengambil buku Harry Potter hard cover saya di hari sabtu (26/1). Dan, coba tebak, ternyata masih ada launching soft cover. Huh... katanya ga ada... *timpuk panitia launching Gramedia pake buku Harpot hardcover* *pundung*Karena saya orang keren yang tidak tega untuk tidak pamer-pamer, jadi inilah dia laporannya, hohoho...
Saya sampai di Gramedia sekitar pukul 3.30 sore, ketemu
Amanda di lantai paling atas gramed, nyamperin Informasi buat dapet nota, terus tau-tau mendapat fakta bahwa ada launching, ngedumel-dumel dalam perjalanan ke kassa, bayar buku, lari-lari di bawah hujan ke salah satu tempat makan, terus makan deh! (ya iyalah, emang mau ngapain lagi di tempat makan :P).
As usual, yang namanya anak IH itu kalo ketemu anak IH, pasti ngobrolinnya soal IH. Kita bertiga (saya, Manda, sama Inka, adiknya Manda) ngobrolin hal-hal seputar IH, tapi isinya rahasia :D. Dua jam berlalu tanpa terasa, jam 5.30 Manda dan Inka balik ke rumahnya, dan saya balik ke Gramedia, sendirian...
Menunggu 4,5 jam, nah loh, bingung kan mau ngapain? Sama, saya juga bingung. Untungnya di lantai 2 1/2 ada kursi yang agak kosong, dan ada setumpuk novel menarik yang plastik pembungkusnya kayaknya sengaja dibuka. Serasa di taman bacaan dah :P. Baca, lirik jam, baru 6.30... Baca lagi, lirik jam lagi, baru jam 7.30... Baca lagi, lirik jam lagi, jam 8... Pegel-pegel. Akhirnya setelah membaca dua ratus halaman novel Bartimeaus dalam dua jam (lelet banget ya), saya maen ke bagian komik. Ada Detective Conan 49! *jingkrak-jingkrak kesenengan* Saya samber deh tuh komik, dan langsung dibawa kabur ke kassa, dibayar. Terus bingung, mau ngapain lagi, padahal masih dua jam lagi. Akhirnya setelah mondar-mandir ga jelas beberapa menit, saya memutuskan duduk di kursi sebelah tangga ke lantai 2 1/2.
Gramed mulai sepi, tapi saya belum selesai baca komik, sampai suatu waktu... Ada pegawai Gramed, tapi dia memandang saya dengan wajah shock, pas saya mau tanya, "Kenapa, Mas?" tiba-tiba... gedubraks! Si mas-masnya jatoh dengan sukses pas mau naek tangga, gyahahaha....
Well, baca lagi... Baru juga sebentar baca, tau-tau ada yang nepuk pundak, dan nyapa, "baca komik, Ly?" Weh.... Si Mas Bayu, siyal, padahal udah sengaja ga mau narik perhatian :P. Yang jelas, sampai jam 9, ada tiga orang pegawai Gramed yang tau-tau nyapa saya. Euh, sebegitu terkenalnya kah saya di Gramed? :P.
Jam sembilan, akhirnya saya memutuskan buat turun dan nunggu di luar Gramed aja kayak yang laennya. Yeah, ternyata udah banyak yang nunggu dan ngantri di luar. Games awalan pun dimulai, dengan MC Mas Aji dan Mas... entah siapa :D *dilempar panci*. Games standar, mulai dari tanya jawab seputar Harry Potter ("Sebutkan nama lengkap Profesor Dumbledore", "Sebutkian warna jubah Lockhart pada saat pertemuan duel!"), sampai permainan gila (ada cowok-cewek yang disuruh goyang gergaji lima puteran, ada cowok yang pake jubah dan mirip Harry Potter [katanya] yang disuruh nulis Harry P pake pantat =)) ).
Tak terasa jam sepuluh pun tiba, dan akhirnya kita diperbolehkan masuk satu-satu. Ternyata per kloter 25 orang. Dan di dalam gedung diumumkan kalau 25 orang pertama ini bakalan dapat hadiah di akhir acara. Nah, kemudian terbentuklah lima kelompok, satu kelompok lima orang.
Dan saya dengan cueknya maju aja ke depan, hohoho. Pas ditanya sama Mbak panitianya (sumpah, saya ga apal nama-nama pegawai gramed :D.), "Siapa ketuanya?" saya langsung menoleh, "Woi, ada yang mau jadi ketua ga? Atau gw aja yang jadi ketua?" Yang laen langsung jawab, "Lo aja." Wahaha... Dasar... Dimana-mana gw mulu yang disuruh maju :P.
Akhirnya kertas petunjuk dibagikan dan game pun, dimulai!
Petunjuk Pertama,
Temukan Bopok of Magic di bagian buku Agama lantai dua, cari halaman sekian -saya lupa halaman berapa :D- dan baca petunjuk berikutnya.
Oh yeah, kami mulai berlari, ditingkahi teriakan panitia, "Jangan sampe terpisah sama anggota tim kaliaaan!!" Ga tau deh yang lain denger apa enggak.
Anggota tim saya semuanya cewek (saya, Lusi aka Zie, Sinta, Ria, Vina), dan sialnya, semua pada pake kostum yang tidak mendukung, terutama sepatu, ada yang pake high heels lah, pantopel lah, malah ada yang sepatunya bisa dipake meluncur kayak di arena ice skating, saking licinnya sepatunya.
Seksi buku Agama. Dalam kegelapan total, kami meraba-raba *halah*. Buku-buku di sana menderita pastinya, soalnya kita acak-acak brutal, wekekekek... Ketemu!
Petunjuk Kedua:
Temukan tiga makhluk berisi udara yang tersembunyi di sudut ruangan lantai tiga. Kalahkan mereka untuk mendapatkan petunjuk berikutnya.
Lari ke lantai tiga! Sempet berpapasan sama orang-orang dari kelompok lain, tetapi sepertinya tugas mereka berbeda dengan kita, hohoho, jadinya aman deh :D.
Lantai 3. Sudut pertama yang didatangi adalah sudut di seksi buku-buku anak-anak/ Untung tempatnya benar. Diselubungi kain hitam, namun agak berpendar, ternyata bersembunyi... tiga buah balon! Weleh...
Pengalaman ini memberitahu saya satu hal: Zie itu di masa kecil suka ikut lomba-lomba di pesta ulang tahun, soalnya dia jago banget mecahin balon! Nyahahaha... *ngakak nista*
Yeah, cara mengalahkan "makhluk-makhluk itu" adalah dengan memecahkannya. Dan sari salah satunya, keluarlah secarik kertas.
Petunjuk Ketiga:
Kalahkan makhluk penjaga di lantai 1 1/2 . Untuk memusnahkannya rapalkan mantra PEMBUNUH MUSUH.
Lihat kata yang ditulis pake huruf kapital? Itu bukannya saya sengaja, tapi emang dari sananya ditulis kayak begitu. Dan apa yang terlintas di benak kalian begitu mendengar kata berhuruf kapital itu? Yep, Kutukan Kematian. Avada Kedavra. lagian pas sore harinya saya ngeliat laba-laba besar nempel di jaring di lantai 1 1/2. Sejauh yang sudah saya baca, Acromantula itu hanya bisa dibunuh/ditakut-takuti oleh Avada Kedavra (cuma jadi curiga... Jangan-jangan saya bacanya dari fanfic :D)
Jadilah kita berlima semangat lari-lari ke lantai 1 1/2 dan mulai meneriakkan kutukan kematian (Kementrian Sihir pasti lagi liburan, soalnya ga ada yang menangkap kami, nunggu launching harpot juga kali ye, huhuhu...). Tapi si orang berjubah hitam yang katanya penjaganya itu ga mau nyerah . Bahkan entah siapa ada yang meniakin Incarcerous, wekekek... Itu kan mantra buat memproduksi tali yang menjerat gitu, Mbak :D. Intinya, mantranya ga mempan.
Saya iseng deh nanya, "mas, nyerah aja deh mas, gimana?" si masnya bilang (pake suara serem, pastinya), "Mantranya salah! Mantranya adalah... Expecto Patronum!"
Weh, itu sih jelas-jelas bukan mantra buat membunuh musuh, tapi menghalau Dementor, heuh... Saya langsung buka mulut buat protes, "Mas! Tapi kan-" Sayang saya udah keburu ditarik pergi. Sama siapa ya? Vina gitu yah? Hoho, yang laen langsung ngambil alih tugas saya teriak Expecto Patronum nyaris ogah-ogahan. Baca petunjuk baru!
Petunjuk Keempat:
Pergilah ke lantai 2, Rak 304, temukan buku Harry Potter keempat, The Goblet of Fire, halaman 556, baca petunjuknya.
Okeh! Lari lagi, meluncur di lantai lagi! Yang ini gampang banget, langsung ketemu! Sayang petunjuknya ditempelin ke bukunya, dan ga boleh di bawa pergi :P.
Petunjuk Kelima:
Pergi ke lantai 2 1/2, temukan yang sudah mati dan bla-bla-bla...
Petunjuk yang saya gak ngeh, hehehe... Selain cuma baca sekilas, kertasnya juga udah keburu diambil sama pemegang kertas kita. Siapa ya, Vina apa Zie? Sebodo lah, hihihi... Pokoknya entar juga ketemu dan ketauan kita harus ngapain di sana.
Si dekat tangga... Sebuah kain hitam bercelah yang dibingkai... Dari dalamnya terdengar suara... "Buat aku tertawa..." Dan tiba-tiba... Dari celah itu muncul laki-laki berjubah hitam lagi, cuma kali ini gak ditudungin kepalanya, rambutnya sebahu lah, dan yang muncul kan cuma kepalanya doang.
Semuapun beraksi, pada bikin wajah-wajah lucu lah, pada memperagakan gerakan yang aneh-aneh. Saya sih ga ikutan tuh, malah sibuk ngetawain mereka, hahaha... (sori pren... *ngabur ke Tibet nyari perlindungan*) Si Mas-masnya sibuk masang wajah dingin, sampai akhirnya, dia kayaknya udah ga tahan lagi, dan nyembunyiin kepalanya, masuk lagi ke lubang, hihihi... LAngsung kita teriakin, "Curaaaang, udah ketawa tuuuh!" Untung si mas-mas sportif, tadinya dia tetap ngasih tau petunjuknya.
Petunjuk Keenam (bukan di kertas)
Pergi ke lantai dua bagian Psikologi, cari kertas kasatmana di bawah kain Hitam, gunakan Apparecium untuk membaca petunjuknya (saya ga denger jelas kalo petunjuk yang ini :D)
Lari ke lantai dua, bagian Psikologi. Berkutat di selubung hitam gitu (jadi inget Aula Kematian *bergidik*) Ngacak-ngacak rak lagi, dan akhirnya ketemua kertasnya, entah siapa yang nemuin, tapi pokoknya ada. Tapi kertasnya tanpa tulisan, dan rupanya... Wujud dari Apparecium itu adalah sebuah baskom air, hehehe... Kertasnya harus dicelup dulu ke air, supaya bisa keluar tulisannya. Ga baca sama sekali nih petunjuknya...
Petunjuk Ketujuh:
(ga baca sama sekali) Pergilah ke lantai tiga... *ditimpuks*
Jadinya ikut yang laen aja, lari ke lantai tiga, terus mencari-cari lagi... Sampai saya nyampe di sebuah sudut terang berselubung kain hitam (lagi) dan dari dalamnya keluar... Kuntiiiii *pengen pingsan* Huhuhu, serem banget deh, saya sampe teriak kenceng beneran... udah gitu si kunti (mungkin banshee yah) duduk di atas troli beras gitu lah, ahahaha... Dan di lehernya menggantung syal.
Wikikik, beneran serem, saya kan takut hantu -_-. Rambutnya berantakan, pake masker putih gitu, punya lingkaran mata tebel kayak Gaara T_T. Tapi diberani-beraniin aja ngedeketin, sambil berusaha supaya ga kesentuh, sambil komat-kamit bilang, "Siapa aja, ambil syalnya dong... Gw alihin perhatiannya..." Weh... Untung ada yang ambil syalnya. Langsung aja saya ngabur begitu berhasil. Dan kata bansheenya disuruh balik ke lantai dua buat nyerahin syalnya. Oke, lari ke lantai dua.
Sempet kepisah, dan untungnya semenit kemudian nemu temen-temen yang laen. Nyamperin panggung. Dan Tau gak? Kita yang pertama nyampeeee... Hore.... Wakakak, padahal rasanya kita banyak buang-buang waktu buat debat sama mas-mas Gramednya.
Hohoho, tentu saja kita menang, kan saya ketuanya *nyengir keren* Ahaha... Terus kita lesehan dan ngobrol-ngobrol deh... Dan dalam percakapan kita sempet terselip percakapan kayak gini:
Saya: "Huhu, tadi seru ya..."
Temen Se-tim (ga tau yang mana): "Iye, Snapenya aneh..."
S: "Hah? Snape yang mana? Emang ada?"
TS: "Lah, itu, yang minta dibikin ketawa."
S: "..."
Weh, ternyata itu Snape toh *ngakak guling-guling* Hohoho, ga mirip seh, udah gitu ekspresi dinginnya malah bikin saya pengen ngakak, wekekek... Hoo... *baru ngeh* Jadi itu ceritanya Boggart Snape gitu tohh... (Boggart, karena dia minta dibikin ketawa, well, kesimpulan sepihak gw sih :D) Terus ada lagi ercakapan kayak gini:
S: "Yang di lante atas juga tadi serem ya."
TS: "Iya, galak bener."
S: "Gw sampe jerit-jerit."
TS: Huuh, si Bellatrix ituh...
S: "Bellatrix?" *terdiam sejenak, mikir* "Haaaaaaahh???"
Wehh, saya ga tau kalo ternyata orang bertampang kunti, eh, banshee itu adalah Bellatrix, nyahaha.... Bellatrix kok ngeri banget sih, pake masker segala. Enggak ah, itu pasti banshee! *manggut-manggut pede*
Percakapan beralih ke soal umur, dan ternyata... Saya yang paling muda, ahaha... Ah, udah biasa sih, dari dulu juga jadi yang paling imut kalo gath, sebelum ada anak-anak es-em-peh yang ikutan gath :P.
Yeah, acara dilanjutkan lagi, pokoknya games-games begitu lah... Saya seperti biasa eksis, selalu mengacungkan tangan kalo ada pertanyaaan, padahal pertanyaannya apa juga kadang ga dengar :D. Sayangnya, si panitia sudah bosen, atau sengaja kali ye, jadi saya ga ditunjuk-tunjuk, kecuali waktu pertanyaannya soal kuda terbang, yang langsung saya jawab, "Thestral!" Tapi si masnya bilang, "Salah~" Wehh... Terus peserta lain ada yang jawab, "Hippogrif!", "Buckbeak!" Walah, kan pertanyaannya kuda terbang.....
Yang jelas gamenya kacau dan penuh kerusuhan XD. karena semuanya fans HP, yang pada ga tau diri, ahaha... Ada loh tim yang isinya anak-anak kuliah sepertinya, tapi ketuanya, anak kecil XD.
Kenapa saya tau? Karena si Mas-masnya ngabsen kita lagi, dan tom saya yang keren B-) dipanggil yang paling pertama, "... Oke, yang jadi ketuanya... Lily aja ya?" yang langsung dibalas dengan serempak sama cewek-cewek di belakang saya, "Emang iyaaa...." Kompak banget, sampe pada ngelirik ke kita :D.
Gamesnya juga kadang yang gak masuk akal gitu, misalnya, siapa yang paling banyak bisa ngapalin nama-nama panitia di situ (dimenangkan sama anak kecil :P. Dia bisa menghapal lebih dari 10 orang), atau siapa yang punya KTP dengan lokasi terjauh (dimenangkan oleh seseorang berKTP Aceh, atau Musa Tenggara gitu ya?), atau siapa yang punya mata uang dengan nominal terkecil (dimenangkan oleh seseorang yang punya nominal 10 rupiah), atau siapa yang punya umur paling tua (dimenangkan oleh seorang ibu-ibu, yang entah berapa umurnya, tyapi udah jelas dia pasti menang :D. Kalo ga salah dia minta hadiahnya tas aja. "Buat anak di rumah," katanya :D. Huhuhu, harusnya
Ambu ikutan nih :P.)
Terus setelah bagi-bagi hadiah lewat kuis, semuanya disuruh baris sesuai tim. Ada tim yang bertugas nyari Syal, Elder Wand, Quaffle, Tom Riddle's Diary, sama Jubah. Ternyata mau dikasih pin gitu. Tadinya saya dapet pin Hufflepuff, tapi terus ada anak kecil yang minta tukeran, dia maunya Hufflepuff tapi malah dapet Slytherin.

Huhu, jadi inget pin yang didapet waktu ikut launching HP7 Inggris, dan inget pin IHP yang lagi dipake:

Huhu, yang Slytherinnya dipinjem sama Teh Nia, dan ga dibalikin lagi... *pundung*
Nah, semua duduk lagi... Tiba-tiba nama saya kembali eksis, ahaha... Dipanggil disuruh ke belakang panggung, dan ditulis ulang namanya, entah buat apa.
Mas-mas Panitia: "Sini-sini, baris sesuai tim."
*semua baris*
MP: "Namanya siapa, Mbak?"
Saya: "Lily."
MP: "Nama lengkapnya, maksudnya."
S: *mesam-mesem sejenak, mikir* "Lily. Udah, tulis 'Lily' aja deh." *tapi ga ngeliat kertas yang ditulisin sama si mas*
Kemudian tibalah saatnya temen-temen se-tim saya, yang malah mengikuti jejak ketuanya ini, wekekek. Semuanya pada ngejawab, "Zie aja," "Ria, R-I-A aja," "Vina aja," "Sinta aja," Weheheh, girls, jangan-jangan beneran ditulis "Lily aja" yah? :))
Kami dipanggil lagi, kali ini disuruh naek panggung, sayanya doang tapi, ahaha. Soalnya yang laen menangkap prospek yang lebih bagus. Antrian ngambil tongkat sihir. Ohh, ternyata ini toh yang dibilang hadiah buat 25 orang pertama :D. tapi saya ditahan-tahan ga boleh turun, jadi yasudahlah. Toh udah dibilang pasti kebagian :D. Lalu temen-temen setim saya juga gabung naik ke panggung.
Dan 10 orang (dari dua tim pertama yang berhasil menyelesaikan games beregu yang di awal itu, tapi tetep aja, tim saya yang pertama XD *tos sama anggota tim*) akhirnya mendapatkan surat kelulusan (katanya). Wah, saya pundung beneran liat surat kelulusannya.

Udah diliat? Bukan, yang nyebelin bukan nilai Outstanding yang tertera di situ, itu sama sekali ga aneh, OWL saya kan emang outstanding *siyul-siyul* Liat deh namanya... Iya, salah tulis! Arrgghh.... *bete berat*
Yah, waktu itu sih saya belom liat tulisannya, masih dalam keadaan tergulung. Makanya saya masih senyam-senyum ceria waktu turun dari panggung dan menghampiri yang ngasih tongkatnya. Huhuhu, ada Dumbledore juga, pake jubah ungu, tapi malah mirip sinterklas :D. Hehe, sempet ngerjain mas-mas gramednya juga, dan sempet dikerjain (lagi) sama bansheenya juga *masih merinding*. Oh iya, saya juga dapet syal.
Pokoknya, setelah beberapa kali basa-basi lagi, pengumuman-pengumuman lagi, akhirnya kita pulang deh. Ada beberapa lagi sih foto-fotonya, tapi ada di henpunnya Zie.
P. S:
- Katanya, tahun 2009 nanti, JKR akan meluncurkan buku tentang dunia Harry Potter lagi. Bukan, bukan tentang Harry Potternya, tapi tentang asal-usul pendirian Hogwarts, dan tentang cerita di Era Marauders. Aih, mau beli XD. Lily, I'm coming *halah* Info ini dari Mas Bayu yah, bukan kata saya, jadi salahkan Gramedia kalo infonya salah, hehehe...
- Zie, minta poto-poto yang kemaren dongs, mau dipajang :P.
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 8:33 pm
_________
Tuesday, January 15, 2008
Yeah, berhubung ada yang request ke saya, dan ada sedikit masalah juga mengenai PDF ini, maka saya mau memampang PDF resmi Harry Potter and the Deathly Hallows di blog saya. Dengan izin dari para penerjemah aslinya, dan Death Eater indonesia Forum.
Silakan dibaca, Mas Alan :D.
Download
PDF Harry Potter and the Deathly Hallows.
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 5:41 pm
_________
Thursday, July 26, 2007
Kali ini saya akan cerita tentang Launching Harry Potter and the Deathly Hallows, tanggal 21 Juli 2007 di Gramedia Merdeka, Bandung. Well, cereta yang ini jelas akan sangat subjektif, karena saya yang cerita, dan tentunya akan sesuai dengan suasana hati saya :-".
Launchingnya sebetulnya jam 6 pagi, namun karena saya mengajak anak-anak HPI dan IHP, maka saya mengundurjkan waktu pertemuan kami menjadi pukul 8 pagi. Yang bisa datang ternyata hanya Renny, Amanda, Retha, Tyas, dan Teguh. Meskipun hanya berenam tetap rame kok. Tapi saya tidak akan cerita-cerita soal mereka. Saya mau cerita soal games-games yang diadakan Gramedia saja :D.
Jadi, ada 4 level, sesuai dengan tiap asrama yang ada di Hogwarts. Tapi jangan kira bahwa gamesnya akan berkaitan dengan karakteristik asrama atau paling tidak Harry Potter, karena perkiraan Anda akan meleset.
Level Pertama adalah Hufflepuff. Di sini masih ada hubungannya dengan Harry Potter. Peserta diminta menjawab tiga pertanyaan untuk bisa lolos ke level selanjutnya. Well, itu mudah, skip saja deh bagian ininya :P.
Level Kedua adalah Ravenclaw. Di sini mulai ngaco, karena gamesnya sama sekali tidak ada unsur Harry Potternya sama sekali.
Berikut percakapan saya dengan mas-mas 'penyihir' penjaga stan:
Mas-mas: "Nih, Mbak, pake jubah ini dulu nih sebelum maen, biar kayak Luna Lovegood."
Saya: "Heh, kenapa harus Luna? Emangnya ini jubahnya Luna?"
M: "Ya nggak, cuma ya saya sukanya sama Luna aja, Mbak."
S: "Trus apa hubungannya sama saya?"
M: "Euh, udah lah Mbak, pake aja, trus maen!" (kesel karena saya banyak nanya :P)
Cara mainnya adalah, di situ ada tiga jenis permainan, setiap permainan kita diberi kesempatan tiga kali. Untuk lolos, kita harus memenangkan dua dari tiga permainan.
Permainan pertama, basket. Huhu, saya kan paling gak bisa maen basket T.T. Mana bola basket dan ringnya itu untuk yang anak-anak pula - -; Tapi untungnya pada kesempatan ketiga saya bisa memasukkan bolanya :D.
Permainan kedua, dart. Halaaah, mana bisa gituh, latihan, nyoba aja kagak pernah.. *timpuk mas-mas penjaga stannya T.T* Jelas saya gagal di permainan yang ini.
Permainan ketiga, lempar gelang ke botol.. *pingsan* Heuheuh, tuh kan, aneh :P. Udah gitu, botolnya itu adalah botol aqua yang plastik, tanpa isi. Itu mah kesenggol dikit aja langsung jatuh lah... Ga usah dibahas, saya gagal juga di yang ini.
Akhirnya saya tanya lagi sama mas-masnya:
S: "Mas, gimana dong, gak bisa!"
M: *ngahuleng* "Ya udah, saya kasih satuu... kesempatan lagi, cuma satu kali, permainannya boleh milih."
S: "Ya udah deh, basket ya?"
(Saya lempar bola ke ring)
S: "Yah, mas, gak masuk!" *nyengir*
M: *habis sabar* "Ya udah deh, lemparin aja terus sampe masuk!"
Wikikik, anehnya, begitu dibilangin gitu, saya langsung bisa masukin bolanya. Wakakak, duduls berat :P.
Level ketiga, ada di lantai dua, Slytherin. Begitu tiba, kami langsung disambut oleh suara MCnya, "Ya, inilah dia penantang kita berikutnya yang sudah berhasil melewati dua level sebelumnya. Apakah mereka bisa melewati tantangan berikutnya?"
MCnya ada dua orang, MC dari OZ Radio (dilihat dari kemeja yang dia pakai) yang nangkring di Level terakhir, Gryffindor, dan MC dari Gramedia yang memakai jubah dan menunggu di Level Slytherin.
Begitu saya datang, saya langsung dipanggil, dan terjadilah percakapan antara saya dan orang-orang Gramedia:
MC di Slytherin: "Mbak, Mbak, di sebelah sini! Iya... Nah, Mbak, namanya, siapa?"
Saya: *masih kaget dan syok* "Eh? Lily."
McS: Nah, Ly, sekarang kita di Level tiga, Slytherin. Cara maennya, ini ada warna-warna, di sampingnya ada mantra-mantra. Nah, nanti ada monster-monster keluar terus bawa-bawa warna itu."
Mbak-mbak Gramed: (Ga tau gimana dia ikutan ngobrol begitu aja :P) "Iya Mbak, terus Mbak tinggal ucapin mantranya sesuai sama yang dipegang sama monsternya." *nyodorin tongkat-panjang-berujung-bulan-perak-yang-sama-sekali-gak-mirip-tongkat-sihir*
S: "Lho? Monsternya ada berapa?"
McS: "Ada dua, itu tuh, lagi siap-siap." *nunjuk dua-orang-berjubah-mukanya-dicoreng-coreng*
S: "Trus, mereka ngeluarin warnanya gantian atau barengan atau satu-satu atau seorang cuma satu atau berapa, gitu?"
McS: "Haduh, Ly, masih gak ngerti? Ya satu lah. Haduh, pusing. Lu aja deh yang jelasin!" *manggil MC yang di Gryffindor*
S: "Ih, Mas, saya ngerti. Cuma Mas-nya aja yang gak jelas ngejelasinnya."
MC dari Gryffindor: *udah jalan beberapa langkah trus berhenti* "Tuh kan, baru juga gw samperin berapa langkah, dianya udah ngerti kok. Gw emang keren, udah ah." *balik lagi ke posisi semula*
S: *pengen ngelirik sinis tapi ditahan-tahan, trus mengalihkan perhatian lagi ke mas-mas MC Slytherin* "Mas, terus tongkat ini buat apaan? Diayunin doang, atau dipukulin ke Mas-mas monsternya? Atau dipukilin ke kertas warna yang dipegangnya?"
McS: "haduh, Ly, sadis amat sih! *syok* Cuma diayunin aja dikit, dipegang doang juga gpp." *narik-narik ke dalem kotak-segi-empat-di-lantai-dari-selotip-item* "Udah, kamu jangan bawel lagi, sini. Nah, Ly, kamu berdiri di sini, kamu jangan sampe keluar dari kotak ini ya."
S: "Mas, kalo..."
McS: "Euh, udah deh, nggak usah banyak ngomong, ni' anak cerewet banget sih. Udah, Ly, siap-siap tuh."
S: "Tunggu dulu dong mas! Kalo saya keluar kotak emangnya kenapa?"
McS: "Ya kamu didiskualifikasi."
S: "Trus kenapa saya pengen keluar kotak?"
McS: "Soalnya... Ly, tuh, fokus aja tuh, mau mulai gak?"
S: "Eh, Mas, kalo kaki saya keluar kotak tapi nginjek kaki Mas gimana?"
McS: "Eh, tuh Ly, monsternya dateng!" *buru-buru kabur sebelum ditanya-tanya lagi*
Wikikik, lalu monsternya datang, dan mereka berdialog dulu sebentar, lalu mulai bertingkah laku seperti zombie yang datengnya pelan-pelan gitu sambil bawa warna tertentu, Huhuh, ya gampanglah itu mah... Tapi, sambil ngucapin mantranya, saya kan ngayunin tongkat, lalu karena tongkatnya berat, saat diayunkan sasarannya dengan tidak sengaja 'meleset', menuju pundak setannya. Wekekek, rasain tuh :P. Sialnya, si setan itu masih sempet memperingatkan temennya, "Eh, gw bilangin, jangan deket-deket sama dia, ntar dipukul beneran!" Wakakak... *evilgrin*
Level keempat, Gryffindor. Di sinilah puncak dari segala keanehan :P. Dateng-dateng, si MCnya malah manggil terus nyuruh duduk.
McG: "Waah, Lily udah lolos ya? Sini, sini, duduk di sini"
S: *bingung, masih gak nyadar udah di Level terakhir, jadi pasrah aja duduk*
McG: *tarik cewek-seorang-lagi-entah-siapa* "Nah, tes terakhirnya, panco, pake tangan kiri."
S: "Heh? Panco? Ngapain? Ini masuk challenge atau cuma games biasa aja?"
McG: "Ih, udah deh, kamu banyak protes ah. Ayo, mau panco gak? Kalo ga mau, nanti ga saya kasih nih pinnya."
Mungkin karena postur saya dan lawan saya itu seimbang, kecuali bahwa dia itu lebih tinggi T.T, atau mungkin karena kita berdua cewek, maka tidak ada yang menang. Begitu jujga waktu gamesnya diganti dengan panco kelingking, dan akhirnya panco tangan kanan, tetap tidak ada yang menang. MCnya sampe mencak-mencak, soalnya dia bosen nungguin. Mungkin mencak-mencaknya sebagian karena saya protes-protes dan nanya-nanya melulu :D.
Akhirnya, setelah ada dua orang lagi yang lolos ke Level terakhir, MCnya menghentikan panco-tanpa-hasil kami. Terus tau-tau dia bilang, "Ya udah, ayo, semua yang udah lolos, naik ke atas panggung! Kamu juga sini, Lily. Udah, jangan banyak protes, sinih!" *narik-narik tangan saya* "Nah, sekarang semuanya berdiri pake satu kaki... Ya, kayak gitu... Terus agak jongkok sedikit, yak... Nah, terus kayak gitu sampe cuma tinggal satu yang berdiri... Hehe, gw ngarep si Lily duluan tuh yang jatoh!" *saya berniat lempar pisau kalo di deket situ aja pisau T.T*
Huhu, gara-gara saya waktu berangkat udah lari-lari karena takut kesiangan, dan waktu olahraga sempet keseleo, jadinya jelas gak tahan sama tes beginian. Dalam keadaan sehat walafiat aja saya belom tentu tahan kok :P. Alhasil, karena saya gak tahan lagi, udah pengen menjejakkan kedua kaki di lantai lagi, tapi di sisi lain ga mau menyerah pada si Mas MC Gryffindor itu, akhirnya loncat-loncat pake satu kaki di atas panggung =)). Dan sepertinya gara-gara itu, panggungnya jadi agak bergetar gitu deh. Awalnya sih gak ngaruh, tetapi... akhirnya cewek yang di sebelah saya, yang tadi adu panco saya saya, jatuh juga :)). Ramalan (dan harapan) Mas MC gak jadi kenyataan deh *siyul-siyul*.
Saya juga sempet foto-foto orang-orang berjubah itu, yang tadinya jaim dan tanya-tanya gitu, tapi setelah dibilang kita dari milis dan forum, karena Renny keceplosan ngomong, mereka akhirnya malah pada berpose gitu saat difoto, gak ada yang mau ketinggalan, duh :P.
Setelah selesai main-main, akhirnya saya membayar buku HP7-nya deh di kasir. Tapi waktu mau turun ke bawah, saya lihat Tyas yang juga kalah, tapi dia dapet pin, padahal saya tadi ga dikasih. Akhirnya,
Saya: "Tyas, kamu tadi kalah kan?"
Tyas: "Iyah."
S: "Kok dapet pin sih?"
T: "Gak tau, tadi dikasih sama mas-masnya."
Saya jelas tidak terima kalau diperlakukan tidak adil seperti ini. Jadi, saya mendatangi meja Gryffindor lagi, di mana ada seorang mbak-mbak duduk.
Saya: "Mbak, saya minta pinnya."
Mbak2: "Lho, tadi Mbak menang ga?"
S: "Nggak, tapi tadi temen saya juga kalah, dan dia dapet."
*tiba-tiba dateng mas-mas, entah dari mana*
Mas2: "Kenapa, ada apaan nih?"
Mbak2: "Ini nih, Mbak ini minta pinnya, tapi dia kalah waktu games terakhir tadi."
S: "Tapi temen saya yang kalah juga dapet kok pinnya." *keukeuh, tetep ga terima*
Mas2: "Err... Gini Mbak, sebenernya pin ini tuh buat dijual.."
S: *langsung ngejawab* "Berapa harganya? Saya beli."
Mas2: "Haduh, si Mbak ini nantangin banget... Ya udah deh, kasih aja."
Dan, voila, saya dapet deh pinnya. Huh, mana mau saya diperlakukan tidak adil :-". Sudah jelas saya akan menuntut hak saya lah :-".
Setelah itu, kami pun berpencar. Teguh pergi ke rumah dosennya, sedangkan Tyas, Retha, saya dan Manda pergi ke Kafe dekat Gramed untuk internetan. Setelah beberapa lama, saya kembali ke Gramed untuk ngambil jatah kaos dari Mas Alan, wekekek, kan lumayan, biarpun ukurannya L, yang jelas kegedean kalo di sayah T.T. Kita cuma berdiri di luar Gramed sih, ngomongin soal challenge-challenge tadi, dan hal-hal lain.
Lalu, tiba-tiba saya bertemu temen saya yang ngajak ke lantai atas Gramed lagi. Ya sudah, saya ikut, dan ternyata orang-orang Gramed sudah mulai beres-beres karena games untuk hari itu sudah selesai, meskipun masih ada beberapa orang berseliweran memakai jubah.
Di lantai, atas, saya kebetulan bertemu dengan orang yang berperan sebagai setannya, yang sepertinya syok melihat saya :D. "Hadoh, kamu lagi! Gamesnya udahan kok, udah, pulang sanah! Besok lagi aja!" Nyahahah, separah itukah saya mengacau di Gramed :P. Oh iya, untuk report lebih lanjut, dan foto-foto, bisa dilihat di
sini.
***
Dua hari kemudian, hari Senin pukul tiga sore, saya datang lagi ke Gramedia, karena Unit Informasi Gramedia menelepon saya dan memberitahukan tentang hal tersebut.
Saya kira saya sudah dilupakan. Saya kira mereka tidak akan mengenali saya. Ternyata saya salah, karena ternyata mereka mengenali saya, yang berarti mereka memang ngefans sama saya... *dipentung payung*
Padahal saya berjalan-jalan di tempat yang lumayan tersembunyi, seperti di sekitar rak buku di pinggir ruangan. Saya juga tidak berperilaku mencolok, rasanya. Juga waktu gamesnya, waktu itu kebetulan dua-duanya cowok yang kena. Mereka disuruh berdiri dengan satu kaki seperti saya dua hari yang lalu, gyahahahhahah... *tertawa bengis*
Lalu, ya akhirnya saya memang ke tengah ruangan, di antara sekian banyak orang dan buku-buku, jadi seharusnya mereka tidak mengenali saya, dan memang tidak ada indikasi mengenai hal itu. Mereka terus saya mengerjai dua-orang-tidak-beruntung itu. Mereka juga tenang-tenang saja waktu mengundi dua hadiahnya. Jadi saya meraka aman.
Tapi, waktu MCnya bilang, "Yah, masih ada dua hadiah lagi nih yang belum dibagiin, cowoknya udah kan tadi, jadi sekarang tinggal ceweknya kalo gitu! Nah, Mbak-mbak penyihir ini yang bakalan milih pesertanya." Huhuhuh, feeling saya langsung gak enak. Jadi saya memilih membaca resensi di belakang sebuah buku dan menunduk saja :P.
Tapi feeling saya benar. Tau-tau kedua mbak-mbak berpakaian penyihir itu sudah berdiri di sebelah saya dan mengandeng tangan saya. Jadinya, saya menengadahkan muka dan senyum-senyum deh sambil bilang, "Hehe, halo Mbak... :D." Parahnya, si mbak-mbaknya malah bilang, "Ternyata bener Lily..." Huhuh, ternyata mereka memang mengenali saya, tidaaaak.... Fans saya bertambah lagi... *kabur sebelum diserbu massa*
Sampai di depan, MCnya juga sambil cengar-cengir bisik-bisik ke saya, "Hehe, kena deh Lily, sini kamu, saya tau kamu mah gak tau malu." Ya ampyuuun, padahal saya mah pemalu gini :">.
Ya, singkatnya si mas-mas itu kejam deh ke saya, dia nanya-nanya cewek yang jadi lawan saya, tapi sayanya dicuekin, huu.. *tendang mas-mas MCnya ke mars* Challengenya ternyata nista berat pula. Jadi, kami berdua (saya dan lawan saya yang cewek juga) harus menghapal nama dan nomor telepon cowok-cowok yang ada di Gramed itu dalam waktu satu menit. Huhu, duduls berat ahh, skip... yang jelas saya dapet mug deh :P.
Huks, agak kesel deh... Dan tau apa pendapat Papi saya soal ini?
'Dikerjain? SOKOOR..! :-". Bawel? BENAR. Kebanyakan nanya? BENAR. Kebanyakan protes? BENAR. Kebanyakan minta traktir? BENAR. Kecentilan? BENAR. Keren? TIDAK BENAR. Duh, nak, emang sifatmu banyak yang duduls kok. Dan itu bukan turunan dari Papi. Papi kan keren. Hadapilah kenyataan.. :-".'
. . . . . . .
. . . . . . .
*lempar kuali ke kepalanya Papi*
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 2:48 pm
_________
Friday, February 16, 2007
Hihi, post hari ini isinya foto-foto semua. Pokoknya foto-foto.Nah, yang dibawah ini adalah foto-foto gath tanggal 10 Februari 2007:





Selain itu, saya juga mau pasang foto saya dengan temen sebangku saya. Sebetulnya saya tidak mau, beneran, buat pasang foto-foto ini. Saya kan gak pernah bagus kalo difoto T.T. Tapi karena banyak desakan-desakan, ya sudahlah, saya pasrah :P.





Labels: Harry Potter
+ Lily @ 11:52 am
_________
Wednesday, January 31, 2007
Err, yah, dua bulan terakhir ini terlalu banyak gath.
Sebetulnya saya sudah buat report lengkapnya, tapi ternyata saya lupa membawanya, jadi untuk sekarang, lihat foto-fotonya saja ya :P.
16-12-2006:
Nonbar HPI Bandung - Eragon23-12-1006: Nonbar HPI Bandung 2 (bertepatan dengan kedatangan Revo ke Bandung)
Berikut foto-fotonya:
1,
2,
3,
4,
5,
6,
7,
8,
9.
24-12-2006:
Kunjungan ke Rumah Ambu Berikut ini foto-foto tambahannya:
1,
2,
3,
4,
5,
6.
01-01-2007:
Tahun Baruan Foto-foto tambahannya:
1,
2,
3,
4,
5,
6,
7,
8,
9,
10,
11,
12,
13,
14,
15,
16,
17,
18,
19,
20,
21,
22,
23,
24,
25,
26,
27.
20-01-2007: Gath dengan Renny dan Melan Granger
Foto-fotonya:
1,
2. Hehe, lupa dirotasi :P.
27-01-2007: Gath dalam rangka menagih traktiran dari Feinschmeiker. Sayangnya, saya lupa ambil-ambil foto, dan saya lupa nagih traktiran T.T.
Laporan selengkapnya, akan dipost di kesempatan berikutnya.
Labels: Harry Potter
+ Lily @ 11:23 am
_________
Monday, October 09, 2006
Ahh....Selamat Hari Raya Idul Fitri *udah ga tahan* *ditimpuks* Ya ya, mungkin sebaiknya saya ucapkan sekarang, soalnya mana bisa Lebaran ke warnet gituh :-" Di bulan puasa ini seperti biasa, selalu ada banyak tawaran macam, "Eh, bubar yuk?" atau "kapan nih kita buka puasa bareng?" Bahkan saya yang suka males-malesan bersosialisasi, suka pasang tampang masam, bahkan sangar, kalau ada yang nyontek pe er, tiap hari, baik bad mood ataupun nggak *kan adil* dapet banyak undangan, hihihi... Yang lalu-lalu sudah lewat, tinggal nyisa tiga nih, hari selasa, rabu, dan sabtu. Well, tunggu saja laporannya pada saatnya *grins*. Ahh, mau pasang-pasang dan pamer-pamer foto ahh....Labels: Harry Potter
+ Lily @ 3:21 pm
_________